Dalam salah satu kajian saya mendengar bahwa khadijah bisa
mendapatkan hati Rasulullah yang paling dalam. Sehingga begitu cinta-nya
Rasulullah kepada Khadijah. Lantas apa yang membuatnya begitu dicintai
Rasulullah? Wafa, habis-habisan. Khadijah memberikan seluruh kebaikannya untuk
Rasulullah. Kemudian, saya belajar apa-apa saja yang membuat Rasulullah nyaman
dengannya.
Tidak salah belajar dari Khadijah ini.
Yang salah adalah penerapan saya yang tidak tepat pada
waktu-nya.
Ya.
Saya menerapkannya pada lelaki yang belum halal bagi saya.
Saya habis-habiskan seluruh rasa sayang saya untuknya. Memperlakukan dia sebaik
mungkin agar saya bisa berada dalam hati-nya terdalam. Bahkan serela itu saya
melepaskan dia bersama perempuan lain. Dan tetap bertahan pada perasaan yang
sama, tidak tercuil sedikitpun. Ketika dia merasa penat dalam pikirannya, dan
memilih hadir kembali (meskipun sementara) dalam hidup saya, saya tetap
habis-habisan padanya. Apapun yang membuatnya nyaman sekalipun saya begitu
sakitnya melihat dia tidak bisa melepaskan perempuan baru-nya, selama saya
masih mampu, saya lakukan. Seluruh kemampuan telah saya dedikasikan untuknya.
Tiga kali.
Dia datang dan pergi sesuka hatinya.
Membawa harapan kemudian pergi meninggalkan ketidakpastian.
Dan tiga kali pula saya habis-habisan mempertahankan
hati-nya.
Dan yang saya lupakan disini adalah..
“Bagaimana bisa saya melakukan hal seperti Khadijah pada
lelaki yang belum halal bagi saya?”
Tentu, Allah tidak
memberikan Ridho-Nya hingga bukan hati-nya yang bertahan untuk saya tetapi
hati-nya semakin jauh dari saya. Begitu jauhnya hingga saya tidak mampu lagi
berjuang untuk mengejarnya. Dan disini lah waktu dimana saya berhenti berjuang.
Berhenti habis-habisan. Berhenti mengharapkan sesuatu hal yang belum dipermudah
oleh Allah.
Saya merasakan..
Allah masih kecewa atas sikap saya ini.
Bagaimana bisa saya merasakannya?
Bisa.
Tiga malam saya selalu meniatkan diri untuk bersujud di
sepertiga malam. Pengingat waktu sudah saya siapkan tepat disebelah telinga
saya. Ternyata, masih ada iblis yang masuk ke dalam hati saya hingga saya
sangat sulit memanjatkan doa-doa saya ini. Terlintas dalam pikiran saya, apakah
Allah begitu kecewa-nya hingga belum memperkenankan saya untuk datang
disepertiga malamnya lagi? :”
Saya begitu salahnya.
Ingin menjadi sebaik-baiknya perempuan untuk lelaki yang
saya sayangi namun keluar dari jalan kebaikan yang diridhoi-Nya.
Semoga kejadian ini menjadi sebaik-baiknya pelajaran bagi
saya dan bagi kamu yang membaca-nya. Bahwa tidak salah berusaha menjadi seperti
Khadijah, namun gunakan usahamu disaat waktu yang benar-benar tepat. Ketika
Allah telah memberikan jalan untuk menyayangi seseorang pilihanNya (setelah
akad).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar