Minggu, 10 Februari 2019

SALAHKAH BELAJAR DARI KHADIJAH ??

27 Desember 2018


Dalam salah satu kajian saya mendengar bahwa khadijah bisa mendapatkan hati Rasulullah yang paling dalam. Sehingga begitu cinta-nya Rasulullah kepada Khadijah. Lantas apa yang membuatnya begitu dicintai Rasulullah? Wafa, habis-habisan. Khadijah memberikan seluruh kebaikannya untuk Rasulullah. Kemudian, saya belajar apa-apa saja yang membuat Rasulullah nyaman dengannya.
Tidak salah belajar dari Khadijah ini.
Yang salah adalah penerapan saya yang tidak tepat pada waktu-nya.
Ya.
Saya menerapkannya pada lelaki yang belum halal bagi saya. Saya habis-habiskan seluruh rasa sayang saya untuknya. Memperlakukan dia sebaik mungkin agar saya bisa berada dalam hati-nya terdalam. Bahkan serela itu saya melepaskan dia bersama perempuan lain. Dan tetap bertahan pada perasaan yang sama, tidak tercuil sedikitpun. Ketika dia merasa penat dalam pikirannya, dan memilih hadir kembali (meskipun sementara) dalam hidup saya, saya tetap habis-habisan padanya. Apapun yang membuatnya nyaman sekalipun saya begitu sakitnya melihat dia tidak bisa melepaskan perempuan baru-nya, selama saya masih mampu, saya lakukan. Seluruh kemampuan telah saya dedikasikan untuknya.
Tiga kali.
Dia datang dan pergi sesuka hatinya.
Membawa harapan kemudian pergi meninggalkan ketidakpastian.
Dan tiga kali pula saya habis-habisan mempertahankan hati-nya.
Dan yang saya lupakan disini adalah..
“Bagaimana bisa saya melakukan hal seperti Khadijah pada lelaki yang belum halal bagi saya?”
 Tentu, Allah tidak memberikan Ridho-Nya hingga bukan hati-nya yang bertahan untuk saya tetapi hati-nya semakin jauh dari saya. Begitu jauhnya hingga saya tidak mampu lagi berjuang untuk mengejarnya. Dan disini lah waktu dimana saya berhenti berjuang. Berhenti habis-habisan. Berhenti mengharapkan sesuatu hal yang belum dipermudah oleh Allah.
Saya merasakan..
Allah masih kecewa atas sikap saya ini.
Bagaimana bisa saya merasakannya?
Bisa.
Tiga malam saya selalu meniatkan diri untuk bersujud di sepertiga malam. Pengingat waktu sudah saya siapkan tepat disebelah telinga saya. Ternyata, masih ada iblis yang masuk ke dalam hati saya hingga saya sangat sulit memanjatkan doa-doa saya ini. Terlintas dalam pikiran saya, apakah Allah begitu kecewa-nya hingga belum memperkenankan saya untuk datang disepertiga malamnya lagi? :”
Saya begitu salahnya.
Ingin menjadi sebaik-baiknya perempuan untuk lelaki yang saya sayangi namun keluar dari jalan kebaikan yang diridhoi-Nya.
Semoga kejadian ini menjadi sebaik-baiknya pelajaran bagi saya dan bagi kamu yang membaca-nya. Bahwa tidak salah berusaha menjadi seperti Khadijah, namun gunakan usahamu disaat waktu yang benar-benar tepat. Ketika Allah telah memberikan jalan untuk menyayangi seseorang pilihanNya (setelah akad).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar