Senin, 24 Desember 2018

KEKUATAN SEPERTIGA MALAM




Ada masa dimana seseorang merasakan gelisah dalam hati-nya. Ada keinginan yang sangat sulit diterima secara logika manusia. Karna pengulangan dosa mungkin? Saya bukan perempuan yang paham betul tentang agama. Masih banyak sekali kesalahan-kesalahan saya didunia. Bahkan jika dosa itu terlihat, mungkin tubuh saya sudah terlihat hitam membusuk. Saya merasa sehina ini dihadapan Allah. Hingga, ada titik dimana hanya ada satu harapan yang ingin saya terima disisa hidup saya. Harapan yang jikalau dinalar merupakan hal yang tidak baik bagi perasaan orang lain. Bagaimana bisa? Bisa.
Apa yang saya harapkan saat itu?
Hanya satu paket.
“Kuatkan hati kami (saya dan doi) sampai Engkau memberi jalan pada kami untuk bersama. Jika dia bukan jodoh hamba, jodohkanlah kami dalam ridho-Mu, Engkau Maha membalikkan hati seseorang, dan hanya Engkau saja yang mampu melakukannya”.
Kapan saya memohon demikian?
Ketika saya memilih untuk pergi meninggalkannya dengan perempuannya.
Ketika saya telah tersakiti kedua kali-nya.
Ketika saya memberikan kesempatan untuknya membiasakan diri untuk menyayangi perempuannya.
Ketika itu-lah, saya diam.
Dan hanya pada Allah saya memanjatkan seluruh harapan besar ini.
Pada setiap sepertiga malam setiap hari-nya.
Sekalipun saya sadar, saya telah tersakiti berulang kali karna telah berharap banyak dari makhluk-Nya. Ketika itu-lah saya sadar, seharusnya saya berharap pada Allah. Karna Dia, punya kuasa atas segala-Nya, sekalipun hati kecil lelaki ini.
Satu minggu.
Saya memanjatkan doa-doa ini pada-Nya.
Tanpa ada rasa mengeluh untuk bangun dini hari padahal kondisinya saya tidur lebih dari jam 11 malam.
Saya pikir, saking inginnya doa saya terkabulkan.
Hingga saya pun tidak mengeluhkan sedikitpun.
Tapi apa yang saya dapat?
Luar biasa.
Hati saya begitu tenangnya.
Benar-benar tenang dan sangat berpasrah padaNya.
Bahkan jika memang suatu saat Allah tidak menghendaki keinginan saya, saya sudah sepasrah itu.
Karna saya merasa, cinta Allah begitu besarnya. Membangunkan saya disetiap sepertiga malam.
Saya merasakan, bagaimana Allah mengelus kepala saya saat dalam sujud padaNya.
Bagaimana bisa saya terpikirkan untuk tahajjud?
Sebelum saya memiliki harapan besar ini, saya tidak pernah terpikirkan untuk shalat tahajjud pada sepertiga malamnya. Tidak pernah. Karna yang saya rasakan selama ini, jika saya memiliki harapan dan harapan itu tidak tercapai, saya tidak memiliki ambisi besar untuk mengejarnya.
Entah, berbeda dengan kali ini.
Harapan saya begitu sebesar ini, karna sungguh saya tidak tau lagi bagaimana cara memperjuangkannya karna saya sendiri-pun tau, dia tidak memperjuangkan saya untuk menghalalkan saya.
Saya menyerah, hingga benar-benar merelakan diri disepertiga malam dan menangis sejadi-jadinya.
Saya meminta suatu hal yang secara logika jika terkabulkan akan menyakiti perempuan lain, menyakiti orangtua-nya, dan menyakiti siapa-pun yang terlibat. Konyol bukan? Ketika kamu tau itu akan menyakiti banyak orang, tapi kamu tetap bertahan dalam doa-mu.
Saya cukup banyak mendapatkan referensi tentang sepertiga malam ini.
Yang saya ingat, Allah turun ke langit bumi disetiap sepertiga malamnya.
Allah akan mengabulkan apapun yang Hamba-Nya pinta di setiap sepertiga malamnya.
Dan Allah-lah yang berkuasa untuk memberi jodoh sesuai keinginan kita, terlepas itu sudah dituliskan sebelum kita diciptakan.
Awalnya saya pikir “Benarkah Allah sebaik itu?”
Lantas saya mencoba-nya.
Seperti yang saya tulis sebelumnya.
Ada kenyamanan, ketenangan, keberpasrahan diri ketika saya melakukan shalat tahajjud ini.
Hingga…
Pada 10 Desember 2018
Saya, terutama hati saya, telah siap menerima apapun yang akan saya lihat, dengar, dan rasakan. Saya membuka akses komunikasi kembali dengan lelaki ini. Hanya membuka, tidak memulai-nya kembali. Bukan takut, tapi sungguh saat itu saya telah nyaman pada keadaan ini. Melihatnya mulai nyaman bersama perempuannya. Ketika saya mendengar bahwa mereka telah melakukan banyak hal. Bahkan saya tidak takut sama sekali ketika saya melihat itu semua. Karna saya punya sepertiga malam. Yang selalu menenangkan saya dan selalu saya tunggu setiap hari-nya. Ketika saya beraktivitas dari pagi hingga malam, hanya sepertiga malam yang saya nantikan. Bukan doi lagi wkwk. Sepertiga malam seperti menjadi kekasih saya. Tidak ingin lepas sehari-pun dengannya. Dan kemudian.. semua itu berubah. Menjadi sangat buruk atas kelakuan saya sendiri. Atas dosa yang saya perbuat sendiri.
16 Desember 2018
Kami dipertemukan. Saya berpikir “Apakah ini jawaban doa saya disepertiga malam?”
Karna ngga ada hujan, ngga ada petir, ngga ada angin.
Dia menyatakan semua perasaannya bahwa ketika saya pergi selama seminggu, dia merasa hati-nya ada pada saya. Sedangkan ketika dia memberikan jeda pada perempuannya, dia tidak merasakan kehilangan sedikitpun.
Saya terlena pada kebahagiaan dunia ini.
Saya menutup mata dan hati saya.
Yang saya pikirkan “Terima kasih, secepat ini Allah mengabulkan doa saya hingga hati-nya benar-benar tetap bertahan untuk saya”. Tapi saya lupa satu hal.
Tidak mungkin Allah mau memberikan jalan yang tidak baik bagi hamba-Nya.
Ya. Pertemuan ini tentu tidak baik.
Karena dosa saya terus mengalir ketika kami sedang berduaan, saling memandang, bahkan hingga saling berpegangan. Tidak mungkin ini jalan yang diRidhoi-Nya.
Dan saat itu, kebetulan saya mendapatkan datang bulan sehingga tidak bisa melanjutkan sepertiga malamnya. Semakin terputus jarak saya pada Allah. Tidak bisa berpuasa senin kamis, tidak bisa membaca Al Qur’an, tidak bisa shalat dhuha, dan tidak bisa shalat tahajjud. Saya gelisah. Hati saya benar-benar gelisah meskipun saya begitu bahagia-nya karna ketiga kali-nya dia kembali pada saya. Ada rasa yang mengganjal. Apa? Yang tadinya saya pasrah dengan apapun yang terjadi, kemudian saya kembali berambisi untuk mendapatkan raga-nya dengan cara saya. Bukan dengan cara Allah sendiri. Saya salah. Mutlak.
Dan benar saja.
Tidak ada seminggu, Allah kembali menjauhkan hati-nya untuk saya. Allah mengembalikan hati-nya untuk perempuannya saat ini. Dan saya sadar, mereka jauh lebih bahagia ketika tidak ada saya dalam hidup lelaki ini. Kemudian.. saya merindukan kembali sepertiga malam saya.
Satu hal yang saya pikirkan “Mungkinkah Allah masih mau mendengar doa saya ketika saya sudah melakukan dosa sebesar itu?”. Hanya mendengarkan saja. Dan masih bersedia kah Allah mengelus kepala saya saat saya bersujud disepertiga malamnya? Sentuh saya sedikit saja hingga membuat saya benar-benar nyaman menjalani hidup ini. Entah. Yang saya tau, Allah begitu baik. Ia selalu disakiti tetapi selalu mau memaafkan kesalahan dan memberi petunjuk pada hamba-Nya. Dan yang saya rasakan saat ini “Bisa kah datang bulan saya selesai saat ini juga? Saya begitu rindu dengan kekasih saya, sepertiga malam saya. Saya begitu rindu pada sujud saya. Saya tidak sabar, setidak sabar ini, hingga saya lampiaskan pada tulisan ini”.
Semoga kamu dan saya selalu mendapatkan petunjukNya. Percaya lah, jika Allah merindukan hambaNya, dia punya kuasa untuk mengetuk hati hambaNya. Hingga hambaNya benar-benar tidak ingin berpisah sedetik pun padaNya. Selamat mencoba bersama-sama untuk bangun disepertiga malam. Percaya juga, Allah punya rencana yang indah disetiap doa yang kita panjatkan. Bisa jadi saat ini begitu menyakitkan, tapi begitu indah suatu saat kita akan rasakan, seumur hidup kita, didetik-detik akhir hidup kita. Semoga kamu, iya kamu (jodoh yang sedang Allah persiapkan), bersedia membantu membangunkan saya disepertiga malam nanti ketika kamu sudah menghalalkan saya. Dan semoga, suatu saat akan ada nama kamu dan anak kita didalam doa saya J



Tidak ada komentar:

Posting Komentar